Halo Blog... malam ini airmata nggak berenti ngalir dari mata gue... hahah cengeng banget yah tapi coba lo bayangin seandainya diposisi gue... semua serba salah, semua serba nggak becus, pekerjaan rumah yang menurutnya nggak sempurna seperti nyapu yang kurang mengkilap, tempet cuci piring yang nggak sebersih di iklan, baju yang belum sempat disetrika, siep2 deh lo bakal disemprot bahkan dari akar-akarnya.
lo bingung ya gue siapa? hahah gue bukan pembantu dirumah orang, gue itu seorang istri dari suami yang kerjaannya mengkritik semua yang gue lakuin. jangan ngarepin pujian deh, boro-boro.
apa gue seburuk itu buat dia?
gue ngerasa hina terus disampingnya...
gue ngerasa jadi orang yang selalu membawa murka dihari-harinya dia...
kalo udah begini, kasian juga dia, buat apa dia melihara gue kalo cuma buat bikin dia gondok karena keberadaan gue?
gue jadi minder, gue apa bagusnya ya? perasaan salah mulu, ini gak becus itu gak becus, ga puas nyalah2in gue, lha orangtua gue dibawa2, katanya gak becus mendidik gue. kalo udah sampe bawa2 orangtua gitu rasanya pengen gue teriakin nama semua hewan di kebun binatang.
satu lagi pelajaran baru yang gue dapet dari cerita nangis2 ini. ternyata nangis dngan suara tertahan lebih sakit dan gue begitu, gue nangis tertahan dipojokan sambil ngetik blog ini. parah, gue ampe sesak nafas gini, udah ah takut ntar majikan gue dan nambah daftar hinaannya selain nggak becus.
anyway, dia yang salah pilih atau gue ya? haha kayaknya gue deh.
Kamis, 25 Juni 2015
Rabu, 17 Juni 2015
Welcome Holly Month
Dear Holly Month...
Menjadi orang dewasa ternyata tidak begitu menyenangkan, kita harus banyak beradaptasi dengan banyak hal. Harus merasakan kehilangan, harus tahan banting dengan kerinduan, harus berteman dengan kesulitan-kesulitan, yeah its like a lyric of Lenka's Song, trouble is a friend, no matter where you go oh oh..
semakin kita dianggap dewasa semakin sulit untuk kita bertingkah apa adanya sesuai yang kita inginkan, seringkali kita akan mengikuti jalan pikiran orang pada umumnya tentang arti kedewasaan itu, and i hate it.. kita juga harus terbiasa melewati hal-hal diatas, mengeluh=anak kecil! blehh fuahh!!
Aku ingin kembali menjadi anak-anak, atau remaja tanggung yang bebas dari polusi pikiran macam-macam, selalin ngerjain PR dan main-main but i cant do it although Doraemon lend me his magic pouch because i want to grow up so that i cant to take care of my parents letter.
Bulan with millions sweet moment...
Ingin sekali aku menganggapmu bulan biasa seperti bulan lainnya, ya... tapi setiap moment kebersamaan yang ku lalui setiap hadirnya bulan ini terlalu berat untuk dianggap biasa-biasa. aku benci menangisi kerinduan, aku menepisnya ketika ia datang, aku menutup telingan ketika ada takbiran, aku menutup mata terhadap artikel-artikel yang membahas tentangmu, Bulan Ramadhan...
sampai kini aku menyerah, aku mebiarkan suara takbir melonglong ke pendengaranku, aku biarkan kucuran airmata rindu ini. kini tak sekedar rindu, tapi kenangan pahit dosa-dosa hari kemarin menjadi-jadi menohok hatiku, betapa kotornya mulutku, betapa jeleknya sifatku, betapa hitamnya hatikmu, betapa aku jarang mensyukuri nikmatMu, nikmat menjadi orang dewasa, nikmat menjadi istri, nikmat menjadi sahabat orangtua, nikmatnya dipanggil tante, nikmatnya sempat dipanggil ibu guru, nikmatnya mendapat kepercayaan dari orang-orang sekitar, nikmat yang tidak mungkin dapat kurasakan jika aku terus-terusan menjadi anak kecil.
Sekarang biarkan aku menangis, penyesalan atas kesia-siaan waktu selama ini memang pantas ditangisi.
Bulan Ramadhan..
Please, dont go fastly, aku ingin beribadah dngan cara lebih dewasa lagi, lebih ikhlas, lebih khusyuk dan lebih banyak...
Kamis, 11 Juni 2015
Jahat Sekali Kamu, Hiks.. Hiks..
Pantas ga aku marah?
Dia selalu begitu, ga pernah ngerasa ada yang nungguin, aku
sering bgt di bikin gondok kalo lagi nunggu dia, ga pernah bisa sebentar. Aarrgghh..
Wajar ga sih aku ngamuk?
Tadi…
Pertama, kita ga pernah berencana membeli sesuatu yang
harganya diatas harga tivi 21 inc (bekas), tapi dia dengan entengnya ngambil
keputusan sepihak. GAK NANYA GUE DULU!. Dan dia bilang, “aku udah beli” FYI kita masih harus ngejalanin hidup 29 hari
lagi dengan gajinya tapi you know… uang
udah abis aja tuh.
Kedua, aku di tinggalin
di toko baju tanpa uang sepeserpun dan dia ngeloyor pergi bilang mau pipis tapi
ckckck lamaa banget, kayak pergi pipis ke Zimbabwe dan aku kayak orang minta
sumbangan yang kikuk berdiri lama tanpa antusias milih-milih baju, . Jelas gue
dipelototin pelayannya. Isshh.. Pas aku Tanya
kenapa pipisnya lama banget dia bilang pergi ke ATM sekalian. ATMnya hampir 600
meter dan dia jalan kaki PADAHAL motor ada!
Ketiga, aku disuruh
nunggu di masjid dengan kardus lemari besar banget, dia mau bayar kos. Dan ini
juga begitu bener-bener walking way of keong garong! Aku nunggu hampir 1 jam
padahal dari masjid itu rumah bapak kos kepeleset dikit udah nyampe dan Semua itu terjadi di hari yang sama, bayangin
gimana gondoknya gue!
Jadi Wajar kan kalo aku ngamuk? Tapi aku berusaha nggak marah,
hanya diam sepanjang perjalanan pulang.
Aku pernah latihan sabar menunggu (maksudnya tanpa marah2 or
cemberut sedikitpun walaupun sebenranya udh mau nyakar2 aspal). Ah ini aku
bahas di next page aja deh, panjang.
Ending dari ke tiga cerita penantianku yyang menyesakkan tadi,
aku lapar! Oke, kita siap-siap mau pergi ke warteg, di tinggal ke kamar
sebentar, dia dan motor udah ga ada dan pulang bawa nasi bungkus kemahalan
dengan lauk murahan, usus! Padahal dia tau aku jijik makan usus gara2 pernah
nemuin kecok rebus disitu. nafasku terengah-engah, seperti benar-benar sesak
nafas, aku diam dengan mata yang panas yang perlahan berair, aku nangis, masih
dengan nafas yang semakin susah terhembus. Pikiranku campur aduk. Harusnya kamu ajak aku biar aku bisa pilih
sendiri lauknya, kenapa kamu bisa nggak inget aku jijik sama usus, kenapa?
bersambung
Jumat, 05 Juni 2015
Honey, I Never Bored A Long Day Waiting For You Back Home
Bolehkah aku tidak selalu sama dengan orang pada umumnya?
Aku ingin tetap terkurung dalam
sepiku, sepi yang tak kurasa sunyi…
Aku lebih suka sendiri,
bermain dengan pena dan kertas-kertasku, menulis tentang hidup yang aku rasakan
atau menuangkan tokoh fiksi yang menari-nari dalam imajinasiku. Jelas?
Kenapa aku harus dikasihani?
Kenapa orang lain harus kasihan dengan kesendirianku?
Aku suka sendiri tanpa mengatakan beramai-ramai itu tidak baik
tapi aku memang suka sendiri tanpa harus ada alasan ideal yang dapat membuatmu manggut-manggut.
Cukup tau aku menyukai kesendirian.
Sendiri tak berarti benar-benar
sendiri, kan?
Aku selalu merasa ada teman. Ya,
setumpuk buku-buku, laptop dan blog-ku, aku tidak pernah merasakan kebosanan
yang orang lain prediksikan. Harus dengan apa ku yakinkan engkau yang tengah
kasihan melihatku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah bahwa aku memang
benar-benar tak kesepian. Aku bahagia! Sungguh! Jangan khawatirkan aku, aku tau
apa yang dapat membuatku senang.
For my Husband, my true love who always doubt that im well in home everyday... :)
New cave.
Selasa, 02 Juni 2015
Kapok Baca Supernova
Partikel-nya Dee ngawur, ya?
Ehm, opening dulu…
Novel tahun 2001 itu aku baca tahun
2015, disatu sisi menyesal, kudet (kurang update) banget yah? Disisi lain saya bersyukur,
saya nggak perlu nunggu sampai 8 tahun untuk episode selanjutnya. Setelah
nyicil dari supernova:KPBJ, selanjutnya Akar, lalu Petir, sampailah aku pada
episode ke 4, Partikel.
+ Hmm.. sebentar, kamu siapa ya
berani-beraninya mau kritik Dee? Punya karya aja nggak, boro-boro best seller
kaya Dee. Tengil banget!
- saya cuma nggak mau jadi bagian
orang yang makan di restoran mewah, tapi nggak berani bilang makanannya nggak
enak karena takut di katain kampungan.
+ Terus salah siapa? Wong cheff—nya andal, pemenang master cheff internasional. Semua
orang seneng makanannya. Berati nggak salah, selera kamu emang kampungan.
- Ada benernya juga sih… emm eh, tapi aku udah punya karya kok, bahkan
karyaku udah pernah jadi bacaan orang-orang hebat dengan teliti, the best of
lah…
+ Siapa? Apa?
- Dosen pembimbing. Skripsi.
+ Ppffffff!!
Baiklah, mungkin saya memang belum
mampu untuk bacaan seberat Partikel, katakanlah begitu. Seperti biasa Dee
selalu berhasil menuturkan sesuatu dengan diksi yang menarik. Dalam KPBJ
misalnya, Diva sang pelacur kelas atas, menertawakan pragawati yang jatuh
karena katinggian hak sepatunya.
Diva
memang tak merasa kasihan sedikitpun, ada batas ketinggian maksimal untuk hak
sepatu. Yang menurutnya patut
dikasihani adalah orang-orang yang berupaya untuk mencuat dan berjinjit diatas kemunafikan. yang haus
akan elu-elu tak bermakna, yang meletakkan harga dirinya di sewujud tubuh molek atau di seraut wajah cantik
tapi mati. Yang menggantungkan jati dirinya
di gedung perkantoran mewah bertingkat empat puluh, dibesar kecilnya kucuran
kredit bank, atau pada sebuah titel yang memungkinkan mereka membodoh-bodohi
sekian banyak orang bodoh lainnya.
Siapa yang nggak penasaran dengan
kelanjutan cerita sang pelacur yang dibalik pekerjaannya yang nista tapi berani
menkritisi nilai-nilai yang katakanlah kurang baik… yang bagi orang lain sudah
lumrah. Episode kedua terbit, tapi benang merahnya belum kelihatan, dengan
tokoh baru di dalam Akar bernama Bodhi. Episode ketiga lumayan ada persamaan
dengan episode kedua, Elektra dan Bodhi bertemu, tapi tanda-tanda kehidupan
Ferre, Rana, Diva, dll dalam supernova satu tidak ada sama sekali. Lalu yang
paling membingungkan Partikel,dengan tokoh Zarah sebagai pemeran utama, hadir
dengan masalah njelimet tapi anti njlimetnya malah ngawur, kesan jatuh cinta
dan pengkhianatan yang dipaksakan,
ayahnya yang masih misterius entah hilang dimana, lalu siapa yang mengirim
hasil jepretan Zarah ke majalah hingga dia memenangkan lomba fotografi tersebut
? sampai novel ini tamat bukan hanya nggak ada benang merah, tapi benangnya yang semakin banyak semakin di uwel2 dan semakin kusut bekerugut. Serasa tidak membaca novel tapi riset tentang flora dan fauna terutama kera dan jamur. Apalah apalah…
? sampai novel ini tamat bukan hanya nggak ada benang merah, tapi benangnya yang semakin banyak semakin di uwel2 dan semakin kusut bekerugut. Serasa tidak membaca novel tapi riset tentang flora dan fauna terutama kera dan jamur. Apalah apalah…
Entah apa yang ingin di buktikan Dee
dalam partikelnya… yang pasti saya beli novelnya pengen tau, bagaimana
kelanjutan hidup Diva, Bagaimana eksperimen spiritual Watti, bagaimana Elektra
dengan Mpret? Just that…
+ Kamu nggak sabaran banget sih?
-
Terus
saya harus tunggu anti njelimetnya terbit 8 tahun lagi? Mending saya nggak usah
baca supernova lagi.
Senin, 01 Juni 2015
Pekerjaan Dari Pak Parmo
Sudah lama nganggur, rasa
percaya diri untuk melamar kerja lagi terkikis oleh penolakan, ketidakcocokan
karena peraturan jahiliyah yang dibuat atau harapan palsu yang sudah sedemikian
seringnya. Hingga datang sebuah tawaran dari Pak Parmo, seorang dosen yang ku
kenal lewat surat kabar waktu itu, beliau membuka lowongan guru TK tapi
ternyata sekolahnya di Wonogiri, Jawa Tengah, melihat skill suami yang memilki soft skill terapi dengan pengobatan
nabawi, beliau semakin tertarik, saya mengajar TK, suami dibukakan rumah
terapi, begitu harapnya. Kami di ajak melihat pesantrennya di Wonogiri, tiket
pesawat akan di pesan besok dan pemberangkatan lusa. Tak ada yang dirugikan
karena jika tak ttertarik pun, sudah ada tiket pesawat balik ke Jakarta, tentu
di tanggung beliau juga.
Setelah berfikir
matang-matang, suami mengambil keputusan untuk tidak mengambil kesempatan itu,
bukan karena tidak percaya pada pak Parmo, lagi pula tidak ada alasan tidak
memercayai beliau, beberapa kali kami datang ke rumahnya yang megah, dengan
garasi luas, empat mobil dan dua motor terparkir disana, foto-foto dengan latar
belakang menara Eiffel dan liburan mewah lainnya berderet di meja telepon, saya
juga diizinkan memlihat perpustakaannya, melihat diisertasinya, yang terakhir
meski tak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan tapi cukup menggambarkan
beliau memang orang yang baik--kami juga di bekali sop durian setiap mau
pulang. Sungguh dimata kami beliau orang hebat. Tapi alasan penolakan suami
karena sudah terjebak dalam kenyamanan pekerjaannya disana, bukan karna gaji
tapi karena orang-orang di dalamnya adalah keluarga bagi kami yang tengah
merantau. Ya, benar-benar keluarga, saya sendiri merasa suami amat di sayang
disana, tak terbilang apa yang sudah mereka berikan untuk membantu kehidupan
kami disini, lagipula bukan keputusan yang bijak jika harus tergiur jabatan
baru padahal pengalaman saja belum seberapa. Selesai!
Untuk mencairkan rasa tidak enak
hati pada beliau, saya bilang pada beliau, “Pak, nanti kalau sekolahnya ada di
Jakarta, kabari saya ya, insyaAllah saya pasti bersedia”.
Satu bulan berlalu, saya di
tawarkan projek bisnis online oleh atasan suami, Pak Wino namanya. Beliau bersedia
stocking barang asal saya tekun menjalaninya. Ide ini dengan serius kami bahas
di rumah beliau bersama istrinya, bahkan kami berencana pindah kontrakan ke Tangerang
agar koordinasinya gampang. Tentu saja nggak ada gaji pokok, lagi pula untuk
pak Wino yang sudah sangat banyak membantu kami saat baru di Jakarta, itu bukan
prioritas saya, suami juga mendukung penuh.
Tapi, tiba-tiba pak Parmo
menghubungi kami lagi, meminta kami datang ke rumahnya di Pejaten, Pasar
Minggu. Kami di ajak kerumah anaknya, tidak jauh dari rumahnya. Lalu duduk
disana, membicarakan tujuannya meminta kami datang lagi. Sungguh, saya bergetar,
entah ada rasa takut juga mendengar pekerjaan yang di tawarkan beliau, reaksi saya
kontras dengan suami yang justru semangat. Saya tak banyak bicara, hanya
mesem-mesem nggak jelas. Sepanjang perjalanan pulang, suami terus berceloteh
ria, saya diam masih dengan mulut terkatup, hati saya berkecamuk.
Besoknya lagi kami disuruh
datang ke rumah Pak Parmo pagi-pagi sekali untuk bertemu anaknya, siangan dikit
anaknya berangkat kerja katanya. Kami di paksa ikut sarapan bersama keluarga
besarnya di meja makan. Bayangkan betapa baiknya orang-orang ini, mana tega
saya menolak tawarannya yang lama-lama seperti permohonan. Anaknya datang
bersama dua puteranya yang masih sekolah di PAUD. Pembicaraan serius di buka, “Ini
cucu saya yang saya ceritakan itu” ia mulai bercerita. “saya akan sangat
berterimakasih jika mba Asmi sama mas Dani mau tinggal di rumah anak saya
menemani cucu saya” saya bergetar lagi mendengarnya, teringat lagi apa yang di
ucapkan kemarin. “Nanti mbak Asmi juga saya daftarkan di majelis taklim dekat
sini, atau kalau ada seminar-seminar parenting mbak Asmi harus ikut” saya
tertantang tapi kembali ciut mengingat suasana rumah anaknya itu. wajar sekali
pak Parmo pendiri pondok pesantren Ruhul Jadid khawatir dengan akidah
cucu-cucunya. Anaknya menikah dengan seorang muallaf yang menurut pengamatan
pak Parmo dia masih menganut agama lamanya, Kristen, tak hanya istrinya yang
akan mempengaruhi akidah anaknya tapi juga mertua dan kakak iparnya yang juga
seorang nasrani ikut nimbrung dirumah itu, satu-satunya muslim di rumah itu ya
si suami, anaknya pak Parmo.
“Tolong bantu saya selamatkan
akidah cucu saya” beliau berkata pelan. Ya Allah apakah ini berkah atau sebaliknya,
musibah? Apa yang beliau lihat dari saya? Apa penampilan saya menipunya hingga
sebegitu percayanya pada saya? Biasa saja, saya menggunakan kemeja, rok dan
kerudung yang tidak selebar akhwat Salaf. Apa saya pernah mengucapkan sesuatu
yang membuatnya terkesima? Hmm… Tidak juga, selama perkenalan, saya lebih
banyak mendengarkan, sedikit menanggapi dan lebih banyak diam. Apa karena titel
saya? ah, apalagi, saya ini bukan sarjana tarbiyah, dakwah ataupun filsafat,
saya sarjana administrasi!
“Maaf Pak, itu berat bagi saya,
saya tidak punya track record yang membanggakan dalam mendidik anak, saya hanya
pernah mengajar ngaji, hanya sekedar mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, lalu pulang.
Saya sepertinya… “ akhirnya kalimat itu berhasil keluar, meski ujungnya
menggantung.
“Berat dan ringannya itu kita
yang menentukan, iya tho? Katanya dalam logat Jawa yang masih kental.
“Semua proses yang luar biasa,
hasilnya akan luar biasa. Jika prosesnya biasa-biasa saja, hasilnya ya akan
biasa, apalagi jika kita niatkan untuk ibadah juga, membantu menyelamatkan iman
orang lain bukankah bagian dari kwajiban kita? Naa contohnya begini……” Pak Parmo
tetap kekeh, seperti biasa mencontohkan orang-orang terdahulu yang begini dan
begitu. Saya pusing. Lagipula kenapa
tidak orangtuanya yang meminta saya? kenapa harus Bapak? Bagaimana kalau ini
ide bapak seorang? Lalu saya yang rencananya mau memperbaiki akidah ini,
dianggap merusak akidah dan ketentraman rumah tangganya juga oleh anak menantu
Bapak? Belum lagi mertua dan kakak iparnya yang kata Bapak punya misi
mengkristenkan anak cucu bapak? Lalu saya datang dengan misi sebaliknya, apa
itu tidak berarti saya menyulut api peperangan dalam rumah itu. Bapak sama saja
memaksa saya berselancar menaklukan ombak lepas sementara saya belum mahir, ya saya
yang gulung ombak. Pesimis dengan jujur
itu beda kan, Pak? dan ini saya lagi jujur! tentu saja saya berkata dalam
hati. Begitulah, saya kalau sudah segan sama orang mulut seperti terkunci
rapat-rapat. Apalagi pak Parmo baik sekali dan beliau sedang meminta bantuan.
“Mbak Asmi hanya menemani mereka
mengulang pelajaran di sekolah, menjadi teladan bagi mereka, mengajaknya membaca Al-quran setiap magrib,
agar akidahnya selamat. Nanti saya akan
support untuk pendidikan S2 mu” Suami saya semakin sumringah, saya kacau. Betapa
beratnya kalimat “menyelamatkan akidah” ini saya dengar. Dan satu lagi, saya
tidak suka iming-iming, janji-janji. Saya bahkan sudah sampai taraf benci.
“Saya istikharahkan dulu, Pak..”
kata saya mengakhiri pembicaraan, Pak Parmo mengiyakan. Kemudian kami pamit. Sulit
sekali berkata tidak…
Sepanjang perjalanan pulang saya
terdiam seperti kemarin, suami juga tak banyak bicara, tubuhku terguncang, dadaku berdegup kencang, akhirnya airmata saya tergelicir perlahan, saya menangis,
menangis untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan.
Ya Allah…
Langganan:
Postingan (Atom)


