Kamis, 25 Juni 2015

GUE NGGAK BECUS!

Halo Blog... malam ini airmata nggak berenti ngalir dari mata gue...  hahah cengeng banget yah tapi coba lo bayangin seandainya diposisi gue... semua serba salah, semua serba nggak becus, pekerjaan rumah yang menurutnya nggak sempurna seperti nyapu yang kurang mengkilap, tempet cuci piring yang nggak sebersih di iklan, baju yang belum sempat disetrika, siep2 deh lo bakal disemprot bahkan dari akar-akarnya.

lo bingung ya gue siapa? hahah gue bukan pembantu dirumah orang, gue itu seorang istri dari suami yang kerjaannya mengkritik semua yang gue lakuin. jangan ngarepin pujian deh, boro-boro.

apa gue seburuk itu buat dia?

gue ngerasa hina terus disampingnya...
gue ngerasa jadi orang yang selalu membawa murka dihari-harinya dia...
kalo udah begini, kasian juga dia, buat apa dia melihara gue kalo cuma buat bikin dia gondok karena keberadaan gue?
gue jadi minder, gue apa bagusnya ya? perasaan salah mulu, ini gak becus itu gak becus, ga puas nyalah2in gue, lha orangtua gue dibawa2, katanya gak becus mendidik gue. kalo udah sampe bawa2 orangtua gitu rasanya pengen gue teriakin nama semua hewan di kebun binatang.

satu lagi pelajaran baru yang gue dapet dari cerita nangis2 ini. ternyata nangis dngan suara tertahan lebih sakit dan gue begitu, gue nangis tertahan dipojokan sambil ngetik blog ini. parah, gue ampe sesak nafas gini, udah ah takut ntar majikan gue dan nambah daftar hinaannya selain nggak becus.

anyway, dia yang salah pilih atau gue ya? haha kayaknya gue deh.


Rabu, 17 Juni 2015

Welcome Holly Month

Dear Holly Month...

Menjadi orang dewasa ternyata tidak begitu menyenangkan, kita harus banyak beradaptasi dengan banyak hal. Harus merasakan kehilangan, harus tahan banting dengan kerinduan, harus berteman dengan kesulitan-kesulitan, yeah its like a lyric of Lenka's Song, trouble is a friend, no matter where you go oh oh..
semakin kita dianggap dewasa semakin sulit untuk kita bertingkah apa adanya sesuai yang kita inginkan, seringkali kita akan mengikuti jalan pikiran orang pada umumnya tentang arti kedewasaan itu, and i hate it.. kita juga harus terbiasa melewati hal-hal diatas, mengeluh=anak kecil! blehh fuahh!!

Aku ingin kembali menjadi anak-anak, atau remaja tanggung yang bebas dari polusi pikiran macam-macam, selalin ngerjain PR dan main-main but i cant do it although Doraemon lend me his magic pouch because i want to grow up so that i cant to take care of my parents letter.

Bulan with millions sweet moment...

Ingin sekali aku menganggapmu bulan biasa seperti bulan lainnya, ya... tapi setiap moment kebersamaan yang ku lalui setiap hadirnya bulan ini terlalu berat untuk dianggap biasa-biasa. aku benci menangisi kerinduan, aku menepisnya ketika ia datang, aku menutup telingan ketika ada takbiran, aku menutup mata terhadap artikel-artikel yang membahas tentangmu, Bulan Ramadhan...

sampai kini aku menyerah, aku mebiarkan suara takbir melonglong ke pendengaranku, aku biarkan kucuran airmata rindu ini. kini tak sekedar rindu, tapi kenangan pahit dosa-dosa hari kemarin menjadi-jadi menohok hatiku, betapa kotornya mulutku, betapa jeleknya sifatku, betapa hitamnya hatikmu, betapa aku jarang mensyukuri nikmatMu, nikmat menjadi orang dewasa, nikmat menjadi istri, nikmat menjadi sahabat orangtua, nikmatnya dipanggil tante, nikmatnya sempat dipanggil ibu guru, nikmatnya mendapat kepercayaan dari orang-orang sekitar, nikmat yang tidak mungkin dapat kurasakan jika aku terus-terusan menjadi anak kecil. 

Sekarang biarkan aku menangis, penyesalan atas kesia-siaan waktu selama ini memang pantas ditangisi. 

Bulan Ramadhan..
Please, dont go fastly, aku ingin beribadah dngan cara  lebih dewasa lagi, lebih ikhlas, lebih khusyuk dan lebih banyak...




Kamis, 11 Juni 2015

Jahat Sekali Kamu, Hiks.. Hiks..



Pantas ga aku marah?
Dia selalu begitu, ga pernah ngerasa ada yang nungguin, aku sering bgt di bikin gondok kalo lagi nunggu dia, ga pernah bisa sebentar. Aarrgghh..
Wajar ga sih aku ngamuk?
Tadi…
Pertama, kita ga pernah berencana membeli sesuatu yang harganya diatas harga tivi 21 inc (bekas), tapi dia dengan entengnya ngambil keputusan sepihak. GAK NANYA GUE DULU!. Dan dia bilang, “aku udah beli”  FYI kita masih harus ngejalanin hidup 29 hari lagi dengan gajinya tapi you know…  uang udah abis aja tuh.

Kedua,  aku di tinggalin di toko baju tanpa uang sepeserpun dan dia ngeloyor pergi bilang mau pipis tapi ckckck lamaa banget, kayak pergi pipis ke Zimbabwe dan aku kayak orang minta sumbangan yang kikuk berdiri lama tanpa antusias milih-milih baju, . Jelas gue dipelototin pelayannya. Isshh..  Pas aku Tanya kenapa pipisnya lama banget dia bilang pergi ke ATM sekalian. ATMnya hampir 600 meter dan dia jalan kaki PADAHAL motor ada!
 Ketiga, aku disuruh nunggu di masjid dengan kardus lemari besar banget, dia mau bayar kos. Dan ini juga begitu bener-bener walking way of keong garong! Aku nunggu hampir 1 jam padahal dari masjid itu rumah bapak kos kepeleset dikit udah nyampe dan  Semua itu terjadi di hari yang sama, bayangin gimana gondoknya gue!
Jadi Wajar kan kalo aku ngamuk? Tapi aku berusaha nggak marah, hanya diam sepanjang perjalanan pulang.
Aku pernah latihan sabar menunggu (maksudnya tanpa marah2 or cemberut sedikitpun walaupun sebenranya udh mau nyakar2 aspal). Ah ini aku bahas di next page aja deh, panjang.
Ending dari ke tiga cerita penantianku yyang menyesakkan tadi, aku lapar! Oke, kita siap-siap mau pergi ke warteg, di tinggal ke kamar sebentar, dia dan motor udah ga ada dan pulang bawa nasi bungkus kemahalan dengan lauk murahan, usus! Padahal dia tau aku jijik makan usus gara2 pernah nemuin kecok rebus disitu. nafasku terengah-engah, seperti benar-benar sesak nafas, aku diam dengan mata yang panas yang perlahan berair, aku nangis, masih dengan nafas yang semakin susah terhembus. Pikiranku campur aduk. Harusnya kamu ajak aku biar aku bisa pilih sendiri lauknya, kenapa kamu bisa nggak inget aku jijik sama usus, kenapa?

bersambung

Jumat, 05 Juni 2015

Honey, I Never Bored A Long Day Waiting For You Back Home


Bolehkah aku tidak selalu sama dengan orang pada umumnya?
Aku ingin tetap terkurung dalam sepiku, sepi yang tak kurasa sunyi…
Aku lebih suka sendiri, bermain dengan pena dan kertas-kertasku, menulis tentang hidup yang aku rasakan atau menuangkan tokoh fiksi yang menari-nari dalam imajinasiku. Jelas? 

 Kenapa aku harus dikasihani?
 Kenapa orang lain harus kasihan dengan kesendirianku?
Aku suka sendiri  tanpa mengatakan beramai-ramai itu tidak baik tapi aku memang suka sendiri tanpa harus ada alasan ideal yang dapat membuatmu manggut-manggut. Cukup tau aku menyukai kesendirian.

Sendiri tak berarti benar-benar sendiri, kan?
Aku selalu merasa ada teman. Ya, setumpuk buku-buku, laptop dan blog-ku, aku tidak pernah merasakan kebosanan yang orang lain prediksikan. Harus dengan apa ku yakinkan engkau yang tengah kasihan melihatku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah bahwa aku memang benar-benar tak kesepian. Aku bahagia! Sungguh! Jangan khawatirkan aku, aku tau apa yang dapat membuatku senang.


For my Husband, my true love who always doubt that im well in home everyday... :)
New cave.

Selasa, 02 Juni 2015

Kapok Baca Supernova



Partikel-nya Dee ngawur, ya?
Ehm, opening dulu…
Novel tahun 2001 itu aku baca tahun 2015, disatu sisi menyesal, kudet (kurang update) banget yah? Disisi lain saya bersyukur, saya nggak perlu nunggu sampai 8 tahun untuk episode selanjutnya. Setelah nyicil dari supernova:KPBJ, selanjutnya Akar, lalu Petir, sampailah aku pada episode ke 4, Partikel.
+ Hmm.. sebentar, kamu siapa ya berani-beraninya mau kritik Dee? Punya karya aja nggak, boro-boro best seller kaya Dee. Tengil banget!
- saya cuma nggak mau jadi bagian orang yang makan di restoran mewah, tapi nggak berani bilang makanannya nggak enak karena takut di katain kampungan.
+ Terus salah siapa? Wong cheff—nya  andal, pemenang master cheff internasional. Semua orang seneng makanannya. Berati nggak salah, selera kamu emang kampungan.
- Ada benernya juga sih…  emm eh, tapi aku udah punya karya kok, bahkan karyaku udah pernah jadi bacaan orang-orang hebat dengan teliti, the best of lah…
+ Siapa? Apa?
-  Dosen pembimbing. Skripsi.
+ Ppffffff!!

Baiklah, mungkin saya memang belum mampu untuk bacaan seberat Partikel, katakanlah begitu. Seperti biasa Dee selalu berhasil menuturkan sesuatu dengan diksi yang menarik. Dalam KPBJ misalnya, Diva sang pelacur kelas atas, menertawakan pragawati yang jatuh karena katinggian hak sepatunya.

Diva memang tak merasa kasihan sedikitpun, ada batas ketinggian maksimal untuk hak sepatu.         Yang menurutnya patut dikasihani adalah orang-orang yang berupaya untuk mencuat dan         berjinjit diatas kemunafikan. yang haus akan elu-elu tak bermakna, yang meletakkan harga         dirinya di sewujud tubuh molek atau di seraut wajah cantik tapi mati. Yang menggantungkan jati dirinya di gedung perkantoran mewah bertingkat empat puluh, dibesar kecilnya kucuran kredit bank, atau pada sebuah titel yang memungkinkan mereka membodoh-bodohi sekian banyak         orang bodoh lainnya.

Siapa yang nggak penasaran dengan kelanjutan cerita sang pelacur yang dibalik pekerjaannya yang nista tapi berani menkritisi nilai-nilai yang katakanlah kurang baik… yang bagi orang lain sudah lumrah. Episode kedua terbit, tapi benang merahnya belum kelihatan, dengan tokoh baru di dalam Akar bernama Bodhi. Episode ketiga lumayan ada persamaan dengan episode kedua, Elektra dan Bodhi bertemu, tapi tanda-tanda kehidupan Ferre, Rana, Diva, dll dalam supernova satu tidak ada sama sekali. Lalu yang paling membingungkan Partikel,dengan tokoh Zarah sebagai pemeran utama, hadir dengan masalah njelimet tapi anti njlimetnya malah ngawur, kesan jatuh cinta dan pengkhianatan  yang dipaksakan, ayahnya yang masih misterius entah hilang dimana, lalu siapa yang mengirim hasil jepretan Zarah ke majalah hingga dia memenangkan lomba fotografi tersebut
? sampai novel ini tamat bukan hanya nggak ada benang merah, tapi benangnya yang semakin banyak  semakin di uwel2 dan semakin kusut bekerugut. Serasa tidak membaca novel tapi riset tentang flora dan fauna terutama kera dan jamur. Apalah apalah…
Entah apa yang ingin di buktikan Dee dalam partikelnya… yang pasti saya beli novelnya pengen tau, bagaimana kelanjutan hidup Diva, Bagaimana eksperimen spiritual Watti, bagaimana Elektra dengan Mpret? Just that…
+ Kamu nggak sabaran banget sih?
-       Terus saya harus tunggu anti njelimetnya terbit 8 tahun lagi? Mending saya nggak usah baca supernova lagi.


Senin, 01 Juni 2015

Pekerjaan Dari Pak Parmo





Sudah lama nganggur, rasa percaya diri untuk melamar kerja lagi terkikis oleh penolakan, ketidakcocokan karena peraturan jahiliyah yang dibuat atau harapan palsu yang sudah sedemikian seringnya. Hingga datang sebuah tawaran dari Pak Parmo, seorang dosen yang ku kenal lewat surat kabar waktu itu, beliau membuka lowongan guru TK tapi ternyata sekolahnya di Wonogiri, Jawa Tengah, melihat skill suami yang memilki soft skill terapi dengan pengobatan nabawi, beliau semakin tertarik, saya mengajar TK, suami dibukakan rumah terapi, begitu harapnya. Kami di ajak melihat pesantrennya di Wonogiri, tiket pesawat akan di pesan besok dan pemberangkatan lusa. Tak ada yang dirugikan karena jika tak ttertarik pun, sudah ada tiket pesawat balik ke Jakarta, tentu di tanggung beliau juga.  
 Setelah berfikir matang-matang, suami mengambil keputusan untuk tidak mengambil kesempatan itu, bukan karena tidak percaya pada pak Parmo, lagi pula tidak ada alasan tidak memercayai beliau, beberapa kali kami datang ke rumahnya yang megah, dengan garasi luas, empat mobil dan dua motor terparkir disana, foto-foto dengan latar belakang menara Eiffel dan liburan mewah lainnya berderet di meja telepon, saya juga diizinkan memlihat perpustakaannya, melihat diisertasinya, yang terakhir meski tak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan tapi cukup menggambarkan beliau memang orang yang baik--kami juga di bekali sop durian setiap mau pulang. Sungguh dimata kami beliau orang hebat. Tapi alasan penolakan suami karena sudah terjebak dalam kenyamanan pekerjaannya disana, bukan karna gaji tapi karena orang-orang di dalamnya adalah keluarga bagi kami yang tengah merantau. Ya, benar-benar keluarga, saya sendiri merasa suami amat di sayang disana, tak terbilang apa yang sudah mereka berikan untuk membantu kehidupan kami disini, lagipula bukan keputusan yang bijak jika harus tergiur jabatan baru padahal pengalaman saja belum seberapa. Selesai!
Untuk mencairkan rasa tidak enak hati pada beliau, saya bilang pada beliau, “Pak, nanti kalau sekolahnya ada di Jakarta, kabari saya ya, insyaAllah saya pasti bersedia”.

Satu bulan berlalu, saya di tawarkan projek bisnis online oleh atasan suami, Pak Wino namanya. Beliau bersedia stocking barang asal saya tekun menjalaninya. Ide ini dengan serius kami bahas di rumah beliau bersama istrinya, bahkan kami berencana pindah kontrakan ke Tangerang agar koordinasinya gampang. Tentu saja nggak ada gaji pokok, lagi pula untuk pak Wino yang sudah sangat banyak membantu kami saat baru di Jakarta, itu bukan prioritas saya, suami juga mendukung penuh.

Tapi, tiba-tiba pak Parmo menghubungi kami lagi, meminta kami datang ke rumahnya di Pejaten, Pasar Minggu. Kami di ajak kerumah anaknya, tidak jauh dari rumahnya. Lalu duduk disana, membicarakan tujuannya meminta kami datang lagi. Sungguh, saya bergetar, entah ada rasa takut juga mendengar pekerjaan yang di tawarkan beliau, reaksi saya kontras dengan suami yang justru semangat. Saya tak banyak bicara, hanya mesem-mesem nggak jelas. Sepanjang perjalanan pulang, suami terus berceloteh ria, saya diam masih dengan mulut terkatup, hati saya berkecamuk.

Besoknya lagi kami disuruh datang ke rumah Pak Parmo pagi-pagi sekali untuk bertemu anaknya, siangan dikit anaknya berangkat kerja katanya. Kami di paksa ikut sarapan bersama keluarga besarnya di meja makan. Bayangkan betapa baiknya orang-orang ini, mana tega saya menolak tawarannya yang lama-lama seperti permohonan. Anaknya datang bersama dua puteranya yang masih sekolah di PAUD. Pembicaraan serius di buka, “Ini cucu saya yang saya ceritakan itu” ia mulai bercerita. “saya akan sangat berterimakasih jika mba Asmi sama mas Dani mau tinggal di rumah anak saya menemani cucu saya” saya bergetar lagi mendengarnya, teringat lagi apa yang di ucapkan kemarin. “Nanti mbak Asmi juga saya daftarkan di majelis taklim dekat sini, atau kalau ada seminar-seminar parenting mbak Asmi harus ikut” saya tertantang tapi kembali ciut mengingat suasana rumah anaknya itu. wajar sekali pak Parmo pendiri pondok pesantren Ruhul Jadid khawatir dengan akidah cucu-cucunya. Anaknya menikah dengan seorang muallaf yang menurut pengamatan pak Parmo dia masih menganut agama lamanya, Kristen, tak hanya istrinya yang akan mempengaruhi akidah anaknya tapi juga mertua dan kakak iparnya yang juga seorang nasrani ikut nimbrung dirumah itu, satu-satunya muslim di rumah itu ya si suami, anaknya pak Parmo.

“Tolong bantu saya selamatkan akidah cucu saya” beliau berkata pelan. Ya Allah apakah ini berkah atau sebaliknya, musibah? Apa yang beliau lihat dari saya? Apa penampilan saya menipunya hingga sebegitu percayanya pada saya? Biasa saja, saya menggunakan kemeja, rok dan kerudung yang tidak selebar akhwat Salaf. Apa saya pernah mengucapkan sesuatu yang membuatnya terkesima? Hmm… Tidak juga, selama perkenalan, saya lebih banyak mendengarkan, sedikit menanggapi dan lebih banyak diam. Apa karena titel saya? ah, apalagi, saya ini bukan sarjana tarbiyah, dakwah ataupun filsafat, saya sarjana administrasi!

“Maaf Pak, itu berat bagi saya, saya tidak punya track record yang membanggakan dalam mendidik anak, saya hanya pernah mengajar ngaji, hanya sekedar mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, lalu pulang. Saya sepertinya… “ akhirnya kalimat itu berhasil keluar, meski ujungnya menggantung.
“Berat dan ringannya itu kita yang menentukan, iya tho? Katanya dalam logat Jawa yang masih kental.
“Semua proses yang luar biasa, hasilnya akan luar biasa. Jika prosesnya biasa-biasa saja, hasilnya ya akan biasa, apalagi jika kita niatkan untuk ibadah juga, membantu menyelamatkan iman orang lain bukankah bagian dari kwajiban kita? Naa contohnya begini……” Pak Parmo tetap kekeh, seperti biasa mencontohkan orang-orang terdahulu yang begini dan begitu. Saya pusing. Lagipula kenapa tidak orangtuanya yang meminta saya? kenapa harus Bapak? Bagaimana kalau ini ide bapak seorang? Lalu saya yang rencananya mau memperbaiki akidah ini, dianggap merusak akidah dan ketentraman rumah tangganya juga oleh anak menantu Bapak? Belum lagi mertua dan kakak iparnya yang kata Bapak punya misi mengkristenkan anak cucu bapak? Lalu saya datang dengan misi sebaliknya, apa itu tidak berarti saya menyulut api peperangan dalam rumah itu. Bapak sama saja memaksa saya berselancar menaklukan ombak lepas sementara saya belum mahir, ya saya yang gulung ombak.  Pesimis dengan jujur itu beda kan, Pak? dan ini saya lagi jujur! tentu saja saya berkata dalam hati. Begitulah, saya kalau sudah segan sama orang mulut seperti terkunci rapat-rapat. Apalagi pak Parmo baik sekali dan beliau sedang meminta bantuan.

“Mbak Asmi hanya menemani mereka mengulang pelajaran di sekolah, menjadi teladan bagi mereka,  mengajaknya membaca Al-quran setiap magrib, agar akidahnya selamat.  Nanti saya akan support untuk pendidikan S2 mu” Suami saya semakin sumringah, saya kacau. Betapa beratnya kalimat “menyelamatkan akidah” ini saya dengar. Dan satu lagi, saya tidak suka iming-iming, janji-janji. Saya bahkan sudah sampai taraf benci.
“Saya istikharahkan dulu, Pak..” kata saya mengakhiri pembicaraan, Pak Parmo mengiyakan. Kemudian kami pamit. Sulit sekali berkata tidak…
Sepanjang perjalanan pulang saya terdiam seperti kemarin, suami juga tak banyak bicara, tubuhku terguncang, dadaku berdegup kencang, akhirnya airmata saya tergelicir perlahan, saya menangis, menangis untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan. 
Ya Allah…